Saat itu dibenaknya muncul berbagai pertanyaan seperti; jika ada Tuhan dan dia adalah penyayang dan penuh kasih, maka mengapa ada penderitaan di muka bumi ini? mengapa dia tidak membawa kita ke surga-Nya saja? mengapa dia menciptakan manusia hanya untuk menderita?
Semua jawaban yang didapat dari aspek agama yang diyakininya saat itu rupanya belum membuat Lang puas. Dia lantas memutuskan untuk menjadi ateis.
Saat menjadi dosen muda jurusan matematika di Universitas San Francisco, Lang akhirnya menemukan keyakinan di mana Tuhan ternyata benar-benar ada. Hidayah muncul di benak Lang saat bertemu beberapa muslim di kampusnya.
“Kami berbicara tentang agama. Aku menanyakan beberapa hal kepada mereka dan saya benar-benar terkejut bagaimana hati-hatinya mereka dalam menjawab pertanyaan saya,” kata Lang mengenang.
Saat itu, Lang bertemu Mahmoud Qandeel, seorang mahasiswa kaya raya asal Arab Saudi. Ketika Lang mengajukan pertanyaan tentang penelitian medis, Qandeel menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris dengan sempurna dan penuh keyakinan. Semua orang di kelas tersebut tahu Qandeel adalah walikota, kepala polisi dan warga umum di negara asalnya.
Dosen dan mahasiswa itu akhirnya sering pergi berdiskusi masalah agama. Suatu hari, Qandeel memberi Lang salinan Alquran dan beberapa buku tentang Islam.
Lang sering membaca Alquran sendirian di ruang sebuah ruang salat yang dikelola mahasiswa muslim di kampus. Tanpa perlu lama-lama, Lang akhirnya ditaklukkan Alquran. Dua surat pertama Al Fatihah dan Al Baqara sudah cukup membuatnya menjadi muslim.














