Tapi mendengar istilah itu, saya malah jadi teringat pula dengan istilah “warung remang-remang”, yang biasanya didahului oleh kata “penggerebekan”.
Tapi sebenarnya maksud si anggota dewan itu tadi adalah supaya seorang politikus itu tidak mudah ditebak, apakah dia dari golongan setan, atau dari golongan malaikat. Atau supaya jawaban yang ada di setiap kepala tentang kita adalah kata, “entahlah”.
Sepertinya ada juga benar sedikit apa yang disampaikan si wakil rakyat itu tadi, bukankah anda pernah mendengar ada seorang pemimpin yang dibangga-banggakan karena katanya hafal Al-Qur’an? Lalu tersandung kasus korupsi? Ah, itu cuma oknum.
Padahal kenyataannya, hampir semua orang bilang “tai kucing”, kalau ada orang yang jadi pemimpin tanpa buang-buang duit, minimal adalah hutangnya seratus atau duaratus juta. Tanya saja teman anda yang biasa jadi tim sukses.
“Ah, itu cuma politik kamu saja”, masih ada orang-orang yang pantas kita perjuangkan untuk menduduki jabatan pemimpin dengan segala hormatnya. Tapi coba saja anda tanyakan tentang kesiapannya, “saya tak punya uang”, begitu katanya kan? Tidak mungkin dia bilang, “saya tak punya Tuhan”, iya kan? Memang begitulah politik.
Yang biasanya kalau orang bicara tentang kitab suci, ia akan selalu bilang “wallahu a’lam”, tapi kalau tentang politik, “entahlah”.














