Dulu tiap semester bayar Rp 2 juta. Sekarang yang menerapkan uang kuliah tunggal (UKT) mahasiswa kedokteran baru bayar Rp 10 juta hingga Rp 20 juta per semester. Setelah jadi sarjana kedokteran, ia masih harus membayar untuk program co-ass, yakni masa magang di rumah sakit selama kurang lebih 2 tahun (dokter muda). Program dokter muda di rumah sakit masih masuk program pendidikan. Per semester masih bayar Rp 4 juta selama jadi co-ass.

Ketua IDI Jateng dokter Joko Widiyarto
Sinta berujar, ia baru akan mendapat gaji saat menjalani program internsip, yakni program pematangan di rumah sakit tipe C/D selama 8 bulan dan Puskesmas 4 bulan. Nilai gajinya berada di kisaran Rp 3 juta.
Sebelum itu, ia masih bergantung sepenuhnya pada orangtua untuk kehidupan sehari-hari. Karenanya ia menolak program Dokter Layanan Primer (DLP). Ia tidak bisa membayangkan berapa banyak waktu dan uang yang harus dibayar. Apalagi, ia mendengar DLP setara spesialis. Sepengetahuannya, biaya jadi spesialis pun tidak murah.
Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya:













