Keadaan ini membuatnya bimbang. Dia tidak punya kemampuan dan keahlian apapun yang bisa membantu menghilangkan penderitaan teman-temannya.
“Aku sendiri sampai saat ini bertanya apa tanggungjawab ku, kayak mana nasib kawan-kawan ku, enggak usah cerita kawan-kawanku, nasib ku sendiri ke depan kayak mana? Karena rasanya kayak diabaikan. Jujur, senioran-senioran aku yang waria, udah pada enggak ada lagi,” ucapnya pelan.
Beberapa tahun ke belakang, waria berkulit putih inilah yang paling muda. Masih dibawa kemana-mana sama ‘mamak ayam-mamak ayam’-nya, termasuk berorganisasi dan menghadiri pertemuan-pertemuan.
Sekarang, Tia yang paling tua. Rasanya seperti beban. Sampai akhirnya menjadi Ketua OPSI sejak 7 Agustus 2015, jabatan yang dia tolak berkali-kali karena merasa belum mampu. Tetapi teman-temannya ngotot dan mempercayainya menjadi pemimpin.














