“Kami Waria Juga Manusia…”

132
Berbagi di Facebook
Tweet di Twitter

Ditanya apakah kawan-kawan waria tidak punya BPJS? Raut wajahnya berubah sendu. Katanya, kawan-kawan waria adalah orang-orang yang lari dari ikatan keluarga. Jangankan Kartu Keluarga, KTP saja kebanyakan mereka tak punya. Ini yang sering menjadi persoalan ketika terjaring razia, tidak ada yang punya kartu pengenal atau identitas apapun.

“Kalau aku, iya tinggal sama keluarga. Kawan-kawanku? Kebanyakan lari dari keluarga. Sepanjang perjalananku kemana-mana, berkawan sama banci-banci, jaranglah orang itu punya KTP. Apalagi BPJS? OPSI ingin mengeluarkan kartu anggota, seperti OPSI-OPSi di daerah lain, tapi memang belum bisa direalisasikan di Medan. Tak semudah membalikkan telapak tangan, banci juga agak susah untuk diajak melakukan perubahan,” cerocosnya sambil tertawa.

Waria yang semasa sekolah dulu selalu juara umum ini membantah stigma bahwa kaumnya adalah biang penyebaran virus HIV-AIDS. Alasannya, waria-waria sekarang sudah dibekali pengetahuan tentang aktivitas seks yang aman, seperti dengan menggunakan alat pengaman.

Survei terakhir menyebaran terbesar virus menakutkan itu, menurut Tia, adalah dari laki-laki dan suami dari ibu rumah tangga yang baik. Alhasil, banyak ibu-ibu rumah tangga yang tidak tahu apa-apa malah positif HIV-AIDS.

“Jadi jangan dibilang waria yang selalu menularkan, sementara yang kena ibu rumah tangga baik-baik. Kemana laki-laki itu kalau bukan jajan di luar? Jajan itu enggak harus sama waria, lo… Berhentilah memberi kami stigma buruk dan diskriminasi, kami waria juga manusia,” kata Tia.