membayangkan hidup di negeri sendiri namun eksistensi selalu dalam ancaman pihak dominan? Adakah terlintas di pikiran berada di tengah-tengah mayoritas beda keyakinan namun penuh dengan ketegangan keimanan?
Bagaimanakah rasanya bila kemudian pemerintah seakan bungkam ketika melihat berbagai bentuk penindasan dilakukan? Atau bisakah akal sehat menerima adanya penganugerahan Nobel Peace Award kepada presiden yang jelas-jelas membiarkan rakyatnya mati menjadi korban kebrutalan?
Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya:














