Janji adalah harapan, tak seperti money politik yang biasanya lebih dianggap efektif, meskipun banyak juga yang jadi gila karena sudah buang-buang duit, tapi tetap saja tak duduk, minimal stress juga. Hutang itu “wajib” dilunasi, tak seperti harapan, bisa ya bisa tidak. Tentu alasannya bisa jadi karena adanya perubahan kondisi yang tak sesuai harapan.
Kadang-kadang konstituen pula yang tak sabar. Seorang tim sukses caleg pernah bilang, “saya tidak akan menghubungi anggota dewan yang berhasil saya dudukkan, selama setahun, sebab saya tahu berapa banyak hutangnya”. Tentu hutang yang dimaksud si timses itu adalah hutang uang, bukan janji.
Fenomena “janji politik” dan “money politik” akan selalu hadir, jika para pemilih masih saja percaya pada janji-janji, atau sebaliknya para pemilih memaksa politikus untuk membayar di muka, lantaran takut kena tipu oleh janji, ahirnya money politik dianggap solusi untuk memenuhi tuntutan “janji adalah hutang”.














